Photon
Photon adalah partilkel elementer dalam fenomena electromagnetic, biasanya
photon dianggap sebagai pembawa radiasi electromagnetic seperti cahaya, gelombang
radio, dan sinar X. Photon berbeda dengan emelenter lain seperti electron dan
quark, karena ia tidak bermassa dan dalam ruang vakum. Photon selalu bergerak
dengan kecepatan cahaya. photon itu
merupakan konsekwensi dari sifat symetrical trans energi yang berosilasi
disekitar titik keseimbangan prima E = 0 dimana terjadi kondisi dimana x = y =
q. Saat x # y pasti E # 0, yang berarti x dan y belum seimbang.Jika x mendekati y atau E mendekati 0,
terjadi osilasi x dan y (kutub utara dan selatan kutub magnet) yang
berarti terjadi osilasi medan magnit yang diikuti osilasi medan listrik.
Pergantian medan listrik dan medan magnet inilah yang dinamakan gelombang
elektro magnet. Pada saat medan listrik besarnya = medan magniet, variable x
akan = variable y, sesuai dengan FSM E = – x + y, maka pada saat x = y akan
memberikan nilai E = 0. Kondisi ini dinamakan kondisi keseimbangan prima.
Jadi photon terjadi pada transisi antara kondisi tak seimbang menjadi menjadi
seimbang prima dengan kata lain photon merupakan media transisi memasuki
keseimbangan prima atau pergantian antara E # 0 menjadi E = 0. Menurut fisika cahaya memiliki sifat mendua, disatu sisi bersifat gelombang elektro magnet, disisi lain merupakan aliran photon.
Marilah kita cermati kemungkinan lain dalam fenomena cahaya dan photon diluar analisa minimalis.
1. Seandainya photon merupakan partikel yang bergerak sendiri dan berpacu dengan cahaya dengan kecepatan c, maka jika laju cahaya dan photon terhalang oleh materi (misalnya kaca), kecepatan cahaya tak akan berubah, karena cahaya tak memiliki massa hingga tak memerlukan ruang, sedangkan photon memiliki massa (baca wikipedia). Menurut hukum Schnellius pembelokan cahaya disebabkan oleh perubahan kecepatan cahaya saat melintasi batas medium yang dilaluinya. Kenyataan terjadi pembelokan cahaya. Ini artinya cahaya dan photon tak bergerak terpisah/ berpacu melainkan merupakan satu paket.
2. Seandainya photon menumpang cahaya sebagaimana sinyal digital atau sinyal analog, maka gelombang pembawa (cahaya) termodulasi secara Modulasi Amplitudo, Modulasi Frekuensi, atau Modulasi Phasa. Gelombang pembawa yang termodulasi dapat didemodulasi, sedangkan yang kosong tak mungkin di demodulasi. Jadi ada gelombang pembawa yang isi dan yang kosong (tak membawa sinyal).. Yang dipertanyakan adalah: Apakah ada cahaya yang tak berphoton, sebagai halnya gelombang pembawa sinyal yang tak termodulasi?
3, Seandainya photon naik atau dibawa oleh cahaya, setelah photon berinteraksi dengan materi, maka jumlah photon akan berkurang (karena sebagian telah “keluar dan turun dari cahaya yang ditumpanginya) dan mungkin sekali ada cahaya yang kosong photon. (Dalam TM asymetrical trans wave tak menimbulkan photon karena berosilasi tak melintasi E = 0 ).
Ketiga pertanyaan itu telah lama “mengganggu” fikiran saya karena tak pernah terjawab oleh guru, dosen atau buku fisika konvensional. Mungkin saja misteri itu telah terjawab oleh fisika modern, tetapi saya telah terbelenggu oleh konsep fisika konvensional dengan Hukum Newton yang seratus persen saya yakini kebenarannya dalam fenomena fisika.
Ketika saya menggagas teori minimalis untuk menjelaskan fiksi Blackhole saya, barulah saya mendapatkan jawabannya yang sangat sederhana: photon merupakan konsekwensi dari sifat cahaya (symetrical trans wave). Saya cukup puas dengan teori saya walau saya tak sanggup membuktikan salah atau benar. Jadi pernyataan saya itu sekedar “pemuas hati saya” karena pengetahuan saya tentang fisika sangat terbatas bahkan sangat minim.
Sangat sulit menjelaskan masalah graviton sebab hingga saat ini misteri graviton belum terpecahkan secara fisika (baik yang konvensional maupun modern), namun graviton diprediksikan atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya gravitasi atau gaya tarik menarik menarik antara partikel yang bermassa.
Berdasarkan Hukum Newton gaya tarik menarik antara benda yang bermassa berbanding lurus (perkalian) antara dua massa yang saling tarik menarik dan berbanding terbalik dengan kwadrad jarak kedua benda itu.
Atas dasar hukum Newton inilah saja berusaha “mengungkapkan” graviton dengan menggagas adanya gelombang dasar materi (elementer clear wawe) yang dipancarkan oleh setiap benda yang bermasa (E = 0 ). Gelombang ini saya imaginasikan sebagai gerakan electron pada tabung hampa (misalnya tabung TV). Pada saat elektron menabrak kaca yang dilapisi lapis pendar akan terjadi bintik cahaya dalam sekejap lalu padam dan berpendar lagi akibat benturan elektron berikutnya. Elektron akan lenyap karena diserap oleh anoda. Mula-mula graviton saya imaginasikan sebagai tabrakan antara dua partikel bermassa hingga pecah sebagai reaksi nuklir fisi, tetapi kemudian saya koreksi karena menyalahi matematika minimalis yang menyatakan E = 0 yang berinteraksi dengan E = 0 akan menghasilkan E = 0 dan tak mungkin menghasilkan E # 0. Juga karena ECW merupakan aliran partikel dasar tak mungkin pecah menjadi partikel yang lebih kecil hingga menimbulkabn kekosongan.
Kemudian saya baru sadar bahwa ECW adalah gelombang (sebagaimana STW) yang mengalami fase E= 0 dan E # 0. Jadi interaksi antara dua ECW memungkinkan terjadinya kondisi E # 0 atau energi semu yang tak bermassa dan tak memerlukan ruang (nyata) sehingga menyebabkan kekosongan yang menimbulkan tekanan negatif dan menimbulkan gaya tarik menarik antara dua benda yang memancarkan ECW.
Saya kira cukup penjelasannya, saya juga bingung bahas yang kaya gini , semoga bermanfaar untuk kalian,
Thanks

0 komentar:
Posting Komentar